Kompos SDK Don Bosco Telah Dijual, Arang Briket Masih Gagal

SURABAYA – Kompos yang dihasilkan oleh tim Eco-preneur SDK Don Bosco telah habis terjual. Dari kotak pengomposan yang ada di belakang sekolah menghasilkan 15 bungkus pupuk kompos alami masing-masing lima kilogram. Setiap bungkus pupuk dijual dengan harga Rp 5000,-. 

Anggota tim Eco-preneur SDK Don Bosco Surabaya menunjukkan tanaman berkhasiat obat yang akan mereka manfaatkan

Anggota tim Eco-preneur SDK Don Bosco Surabaya menunjukkan tanaman berkhasiat obat yang akan mereka manfaatkan

“Pupuk kami alami. Kami sendiri yang memanen, menimbang dan menawarkan kepada para suster. Suster Maria langsung membeli 10 bungkus. Jadi uangnya banyak,” ujar Christo Torus, siswa kelas 4 SDK Don Bosco, saat pembinaan Eco-preneur di sekolahnya, Kamis (4/4).

“Kami punya 2 produk usaha bisnis. Pupuk kompos dan briket. Pupuknya sudah dijual tetapi untuk briketnya kita masih gagal. Pembuatan briket gagal karena turun hujan terus. Padahal pembuatan briket sangat tegantung dengan matahari,” jelas Irul Anam, siswa kelas 5 anggota tim Eco-preneur sekolah ini.

Menurut Irul, tim Eco-preneur SDK Don Bosco harus menelan sedikit kekecewaan karena salah satu produk mereka gagal. Produk yang menjadi andalan tim ini seharusnya pupuk kompos dan briket, tetapi briket gagal diproduksi karena kendala alam.

Dengan gagalnya produksi briket, tidak menjadikan tim putus asa. Produksi pupuk lebih dimaksimalkan lagi. Setiap Sabtu pengolahan kompos dilakukan perawatan. “Setiap Sabtu kita melakukan kegiatan lingkungan semua,” terang Gita Pratama, siswa kelas 5 anggota tim sekolah ini. Menurutnya, memaksimalkan potensi yang ada lebih baik daripada hanya merenungkan kegagalan yang terjadi.

Tim Eco-preneur SDK Don Bosco diajak menulis perkembangan program Eco-preneur mereka untuk dipublikasikan secara online

Tim Eco-preneur SDK Don Bosco diajak menulis perkembangan program Eco-preneur mereka untuk dipublikasikan secara online

Pada pembinaan program yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan Pemerintah Kota Surabaya ini, mereka mengajak berkeliling sekolah melihat potensi sekolah. Terdapat taman tanaman berkhasiat obat yang sudah sangat besar dan waktunya panen. “Ayo kita panen TOGA mu. Ketika waktu panen, TOGA harus segera dipanen agar tidak busuk,” ajak Purbo Sari Retno Ningsih, aktivis Tunas Hijau.

Banyak potensi yang dimiliki oleh SDK Don Bosco, termasuk TOGA. Hanya pemanfaatan TOGA yang belum maksimal di sekolah yang berlokasi di Jalan Tidar ini. Untuk itu Tunas Hijau mengajak mereka memaksimalkan potensi TOGA yang ada.

Sementara itu, menurut Sekar Ranti, guru pembina Eco-preneur SDK Don Bosco, pemasaran produk Eco-preneur selama ini dilakukan untuk kalangan warga sekolah. “Kami melakukan pemasaran hanya di lingkungan siswa, guru, suster dan wali murid. Kebetulan kemarin ada tamu dari yayasan pusat dari Kediri, saat itu kita jual ke mereka,” terang Sekar Ranti. (sari/ro)