Produk Olahan Daun dan Buah Tin SMPN 25 Siap Layani Luar Sekolah

SURABAYA- Tak disangka-sangka, tanaman buah tin yang awalnya tidak perhatikan di SMPN 25 Surabaya, kini difavoritkan tim Eco-preneur sekolah di kawasan Simo ini. Mereka menjadikan buah tin sebagai maskot program Eco-preneur yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dan Pemerintah Kota Surabaya. 

CINCANG: Daun buah tin dicincang sampai kecil kemudian dikeringkan

CINCANG: Daun buah tin dicincang sampai kecil kemudian dikeringkan

Menurut Diah Ayu Octavia, anggota tim Eco-preneur SMPN 25, timnya mempercayai bahwa daun dan buah tin mempunyai kandungan yang bisa mengobati berbagai macam penyakit yang diderita manusia. “Kami menjual dalam  bentuk minuman dan daun teh siap saji. Karena melihat potensi menjual minuman teh siap minum bisa lebih praktis,” kata Diah Ayu Octavia.

Alasan lain produksi minuman dan daun teh siap saji, menurut Diah Ayu, adalah seusia mereka itu lebih banyak minum dibandingkan makan. “Hal ini menjadi keuntungan bagi kami karena bisa mempengaruhi banyak pembeli. Tidak hanya teh, kami juga memanfaatkan buah tin untuk membuat sirup,” terang Diah Ayu Octavia, siswa kelas 8. Mereka bahkan akan segera membuka stand untuk teh.

Tim Eco-preneur SMPN 25 menggunakan media komunikasi berupa mading 2 dimensi untuk menyosialisasikan produknya. “Mading yang kami buat itu berisi daftar produk yang kami buat. Juga daftar harga sampai manfaat tiap produk yang kami buat. Seperti khasiat dari daun dan buah tin yang mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi dan dapat mengurangi resiko terkena penyakit kangker,” terang Mulyadi, guru pembina Eco-preneur SMPN 25. Bagi Mulyadi, olahan daun dan buah tin tidak hanya bisa mengurangi penyakit kanker, tapi juga bisa mengencangkan kulit karena antioksidannya cukup besar.

Tim Eco-preneur SMPN 25 Surabaya membenahi keranjang pengomposan

Tim Eco-preneur SMPN 25 Surabaya membenahi keranjang pengomposan

“Kami juga berinisiatif untuk membuat media komunikasi online di jejaring sosial. Seperti facebook dan twitter yang masih digemari anak muda. Dengan media komunikasi yang mudah dan cepat, maka kami bisa menyampaikan produk daun dan buah tin ke publik,” terang Mulyadi kepada Tunas Hijau di sela pembinaan lingkungan hidup Eco-preneur bersama Tunas Hijau di sekolahnya, Senin (25/3).

Untuk pengembangan, mereka berencana tidak hanya melayani pembeli dari warga SMPN 25. “Kami juga melayani pembeli dan pemesanan dari luar. Selama ini kami hanya berkuasa di dalam kandang. Maksud saya, hanya di dalam sekolah,” terang Mulyadi.

Memanfaatkan dan mengolah daun tanaman buah tin bukan satu-satunya ide wirausaha lingkungan hidup yang dikembangkan tim Eco-preneur SMPN 25.  Mereka juga disibukan dengan mengembangkan bank sampah dan kerajinan tangan dari sampah plastik.

“Kami gunakan bank sampah sebagai satu ide bisnis yang mengajak semua warga sekolah untuk berpartisipasi ikut melestarikan lingkungan dengan cara menabung dengan sampah. Dan satu lagi, kami memanfaatkan sampah plastik untuk membuat kerajinan tangan seperti untuk membuat tempat pensil,” tutur Mulyadi. (1man)