Pengolahan Sampah jadi Modal Utama Peserta Eco-preneur Sekolah Dasar

SURABAYA- Lingkungan hidup memberikan banyak modal yang sangat berharga, khususnya di sekolah-sekolah Surabaya. “Adanya tempat sampah, keranjang pengomposan sampah organik yang hampir dimiliki oleh setiap sekolah di Surabaya, sarana pembibitan tanaman dan green house di sekolah-sekolah merupakan modal yang sangat berharga,” ujar aktivis senior dan Direktur Eco-preneur Tunas Hijau kepada peserta Workshop Eco-preneur khusus Sekolah Dasar di Bappeko Surabaya, Sabtu (2/3). 

Sampah menjadi modal utama Eco-preneur Sekolah Dasar

Sampah menjadi modal utama Eco-preneur Sekolah Dasar

Satuman menjelaskan bahwa di Indonesia segala sesuatunya bisa menghasilkan uang. Berbeda dengan kondisi di luar negeri khususnya negara-negara maju. “Di Indonesia, dengan mengumpulkan sampah non organik kita bisa mendapatkan banyak uang. Semakin banyak sampah yang berhasil kita jual, maka semakin banyak uang yang akan kita dapatkan,” kata Satuman.

Namun, bila sampah yang dihasilkan di sekolah setiap hari selalu banyak, maka indikasinya sekolah itu kurang ramah lingkungan hidup. “Sebab, tidak ada upaya peduli lingkungan hidup, khususnya pengurangan sampah yang dilakukan oleh warga sekolah. Upaya pengurangan sampah yang dihasilkan harus menjadi upaya pertama yang dilakukan,” lanjut  Satuman.

Peserta Workshop Eco-preneur sedang melakukan pemilahan sampah makan siang

Peserta Workshop Eco-preneur sedang melakukan pemilahan sampah makan siang

Memanfaatkan potensi sampah ini, Tunas Hijau menjadikannya sebagai isu utama dalam pelaksanaan program wirausaha peduli lingkungan hidup ini. “Dalam pekan pertama setelah pelaksanaan workshop ini, seluruh sekolah peserta Eco-preneur diminta melakukan pengumpulan modal dengan melakukan pengolahan sampah,” sambung Satuman.

Pengolahan sampah yang dimaksud adalah segala aktivitas yang berhubungan sampah. Bisa dengan cukup memanen kompos dari lubang resapan biopori yang sudah ada. Bisa dengan mengumpulkan aneka mainan bekas dari warga sekolah untuk dijual dengan harga murah melalui bazar. Bisa juga dengan mengumpulkan koran bekas untuk dijual. Bisa juga dengan upaya pengolahan sampah yang lainnya. (ron)